Tampilkan postingan dengan label Cerita Cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Cinta. Tampilkan semua postingan

Cerita Cinta Luka dan Penyesalan

“Putri, kak Rehan mau ngomong sesuatu sama kamu” kak Rehan mengawali pembicaraannya malam itu “Iya kak, ngomong aja” jawabku singkat “Kakak pengen jujur sama Putri” diam sejenak kemudian kak Rehan melanjutkan kata-katanya “Setelah sekian hari dan berbagai cara, ternyata kakak lebih cocok memposisikan kamu sebagai adek, kakak coba untuk lebih, tapi nggak bisa, kakak sulit untuk menerima orang lain selagi orang yang pernah singgah di hati kakak masih ada. Kakak minta maaf kalau ada yang salah dengan kata-kata itu, kakak cuma pengen jujur aja. Hari-hari kemarin bukan berarti kakak mempermainkan Putri, tapi kakak memang pengen dekat sama Putri. Namun itu hanya bertahan sesaat” Ku cerna kata demi kata dengan seksama dan aku mulai mengerti “Kak Ita?” hanya nama itu yang ku ingat, seorang mantan yang selalu kak Rehan ceritakan padaku “Iya, kakak jujur dari apa yang kakak rasakan, tapi jujur, kakak juga nggak ingin kehilangan Putri, Putri udah ngajarin kakak banyak hal, membalasnya pun rasanya tak sanggup, jangan merasa jauh dari kakak” Sepertinya dia hanya berusaha menenangkan hatiku. Namun hati ini sudah mulai berkecamuk, antara sedih, marah dan kecewa, mataku mulai berkaca-kaca, dan aku memilih pergi meninggalkannya. Dia memutuskan untuk tak menahan kepergianku. 

Luka dan Penyesalan

Kejujuran yang begitu menyakitkan, hati ini terluka, aku sakit karena kak Rehan, aku benci dia, aku benci kak Rehan, meski dia mengaku salah karena terlalu jujur padaku, aku sakit karena aku sudah terlanjur berharap, aku sakit karena kakak pernah membawaku terbang ke awan, lalu hari ini ia menjatuhkanku ke jurang yang terdalam, hati ini benar-benar sakit “Terbang tinggi resiko jatuh lebih sakit, jadi segala kemungkinan harus disiapkan” terngiang aku dengan kata-kata itu dan hari ini itulah yang terjadi.

Aku hanya bertahan beberapa hari dengan kemarahanku, tekad bulatku untuk melupakannya, tak pernah bisa ku realisasikan, hubungan kita kembali membaik, meski dia hanya menganggapku sebatas ‘Adek’. Kak Rehan benar, aku takkan pernah bisa jauh darinya.

Januari 2012
Hari ini kak Rehan menemaniku membeli printer yang telah lama aku impikan. Hujan lebat sore ini memberiku kesempatan untuk bisa lebih lama bercengkrama dengannya.
Selain menyuruhku untuk menetralisir perasaan-perasaan aneh ini, lagi-lagi ia bercerita tentang sang mantan dan aku harus menjadi pendengar setianya “Meski kita berdua masih sama-sama saling mencintai, tapi tak mungkin kita bersama lagi, karena dia sudah jadi milik orang lain, lagi pula dari segi umur dia terpaut beberapa bulan lebih tua dariku, karena itu kakak selalu berusaha berfikir lebih dewasa, orientasi kakak saat ini adalah mengejar impian kakak untuk jadi pengusaha sukses”. Cita-cita yang brilliant, inilah kata-kata yang sudah lama tak ku dengar ‘jadi pengusaha sukses’. “Amin, do’aku menyertaimu” cletukku, dia pun tersenyum simpul.
Hari sudah semakin senja, hujan tak kunjung reda, ritual sholat Ashar belum terlaksana, akhirnya kita memutuskan untuk menyatu dengan air hujan.

Februari 2012
Malam ini sakit gigi menyerangku, sakit yang belum pernah ku rasakan seumur hidupku. Ku tak tahu siapa yang bisa mendengarkan jeritanku malam ini, di malam yang sunyi ini, aku sendiri, mengerang kesakitan, mereka sudah terlelap dalam mimpi-mimpinya, kak Rehan, ya.. hanya nama itu yang ku ingat, semoga kak Rehan bisa membantuku, ku sadar dia takkan bisa melakukan apa-apa untuk menyembuhkan sakit gigi ini, tapi paling tidak, ia bisa membantu menenangkanku. Ku mulai mengumpulkan kekuatan untuk menekan tuts-tuts di ponsel bututku ini, mulai merengek manja, mengeluhkan sakit yang sedari tadi menyiksaku, tapi balasannya “Adek, boleh kakak bertanya dulu?” “He’em” jawabku singkat “Adek udah tahu hubungan kak Rehan sama mantan?” “Tahu, kak Rehan udah balikan kan sama kak Ita” jawabku asal “Ya benar kita berdua udah balikan” Bak petir menyambar di tengah awan yang cerah, rasanya malam ini aku tak bisa lagi membedakan derasnya air mata ini karena aku yang sedang sakit gigi ataukah karena remuknya hati ini.
“Emm, emang kalau kalian udah balikan, adek nggak bisa minta perhatian kakak lagi donk?” dengan innocentnya ku bertanya seperti itu “Ya, nggak papa sih, cuma semua ada batasnya” jawabnya “Kalau pacar ada mantan, kalau saudara untuk selamanya” lanjutnya. Ingin rasanya ku bertanya sejak kapan balikan? Gimana ceritanya? Tumben kakak nggak cerita? tapi aku sudah tak sanggup menahan semua ini, untung saja hanya lewat pesan singkat, jadi kak Rehan tak perlu tahu bagaimana ekspresi kekecewaanku padanya “Selamat ya kak, moga kakak bahagia” dengan nada sok rela ku memberi selamat atas kebahagiaan mereka, dan ia hanya membalas kepura-puraanku itu dengan “Makasih atas pengertian Adek”, ku memilih untuk mengakhiri acara Es-Em-Es-anku malam ini. Andai kak Rehan tahu aku pengertian semata-mata karena aku sayang sama kakak.

Semalaman mata ini tak bisa terpejam, sakit gigi ini sudah tak lagi terasa, karena sakit ini sudah pindah ke dasar hatiku yang terdalam.
Hati ini mulai memberontak. “Mereka Balikan” lalu apa arti beberapa bulan kemarin, ia memberiku sejuta harapan seolah-olah rasa sayang itu mulai ada untukku? Apa arti semua perhatian kak Rehan padaku selama ini? “Jangan pernah merasa bahwa kak Rehan nggak sayang sama Putri, kak Rehan sayang sama Putri” apa arti dari kata-kata itu? apa maksud dari panggilan ‘sayang’ itu, kalau pada kenyataannya ia tak pernah bisa menyayangiku? Sejuta pertanyaan berlarian di benakku. “Pelarian, Pelampiasan” mungkin hanya itu jawaban yang paling tepat bagiku saat ini, selama ini ia hanya mempermainkanku, aku hanyalah pelarian sesaatnya, saat ia sudah berada di puncak patah hatinya, mendengar sang mantan sudah menjadi milik orang lain, dia melampiaskan semuanya padaku, namun saat semua rencana itu tiba-tiba dibatalkan, mereka langsung balikan begitu saja tanpa peduli sedikitpun perasaanku, tanpa peduli sakit hatiku. Dan masih sempat ia berdalih “Putri, Kak Rehan nggak bermaksud mempermainkan perasaan kamu, kak Rehan hanya berusaha jujur sama perasaan kakak”, ia bahkan tak pernah sadar bahwa ia telah menyakiti perasaanku, menghancurkan hidupku.

Aku takkan seperih ini jika pelukan itu tak pernah menghangatkanku, aku takkkan sekecewa ini jika ia tak pernah membawaku terbang ke atas awan. Kenapa kak Rehan harus memberiku harapan dulu, baru kemudian meninggalkanku begitu saja? Penyesalan, ya… penyesalan yang hanya bisa ku ungkap lewat air mata. Luka ini tertoleh terlalu dalam dan tak mudah menyembuhkannya.

Kak Rehan, sosok yang dulu membuatku hidup dengan penuh motivasi, kini tak ada lagi, aku rindu kak Rehan yang dulu. Aku benci kak Rehan yang sekarang, seorang yang telah menorehkan luka terdalam di hatiku, bahkan kini ia telah membuatku membenci sosok orang yang sama sekali belum aku kenal. Aku benci kak Rehan. Bahkan hingga detik ini aku masih belum bisa memaafkannya. Hati ini terlalu sakit. I hate You, Rehan.
“Berdo’a aja, kakak akan selalu meng-AMIN-i do’a adek”, itu kata-kata yang pernah kak Rehan ucapkan dulu. “Semoga aku bisa melupakan kak Rehan” hanya itu do’aku saat ini.

Maret 2012
Untuk pertama kalinya aku merasakan getaran di hati ini saat bertemu dengannya, getaran yang selama ini ku percaya bahwa itu adalah tanda rasa sayang itu ada. “Getaran cinta di hatiku”, kenapa ia baru muncul saat kak Rehan sudah pergi meninggalkanku dan tak mungkin kembali? Saat kak Rehan sudah bahagia dengan orang yang ia sayangi?
Betapa bodohnya aku ini, kenapa rasa sayang ini masih bersarang di hatiku, padahal rasanya sakit ini sudah mendarah daging, dimana harga diriku sebagai perempuan? Kenapa aku serasa tak mengenali diriku sendiri saat ini?

Malam ini sungguh tragis, kenapa aku harus melihat mereka berdua? Kenapa ia harus tersenyum innocent padaku saat kita bertemu? air mata ini seakan tak peduli dimana aku berada, sepanjang jalan, air bening ini tak henti membanjiri pipiku. Air mata ini bukan karena senyuman tanpa dosa itu, bukan karena cemburu atas kebersamaan mereka, tapi air mata ini karena rasa kecewaku pada kak Rehan, dulu ia tak pernah punya waktu untukku, bahkan untuk sekedar 5 menit bertemu, dulu hanya satu kata “SIBUK” yang selalu ia persembahkan untukku, sibuk dikejar deadline tugas kantor yang selalu menumpuk, namun saat ini semua seakan sudah tak berlaku, waktunya selalu ada buat orang yang ia sayangi.
Dan saat ini aku tersadar, baik dulu, saat ini, maupun hari-hari berikutnya aku bukanlah siapa-siapa baginya, aku tak pernah berarti baginya, bahkan status ‘Adek’ pun, rasanya sudah tak ada gunanya lagi.

Hingga detik ini, aku tak mampu bangkit dari keterpurukanku, hidupku hampa. Cinta, Luka, Penyesalan, semua itu selalu menghantuiku. Tugas kuliahku terbengkalai, aku sama sekali tak punya semangat untuk mengerjakan tugas akhir yang sebenarnya menjadi impian terbesarku, yang menjadi harapan kedua orangtuaku dan orang-orang yang mengharapkan kesuksesanku disana. Teman-temanku pun sudah berulang kali menegurku, tak henti-hentinya mereka memotivasiku untuk bangkit, bahkan kak Rehan sendiri sangat menyayangkan sikapku ini. Beberapa buku motivasi sudah ku baca, aku sudah berusaha untuk bangkit, tapi semuanya tetap terasa berat. Aku belum mampu untuk bangkit. Aku telah hancur. Benar-benar hancur.

April 2012
Entah angin apa yang menggerakkan kakiku ke tempat ini, tempat yang bagiku penuh kenangan, tempat dimana kak Rehan pertama kalinya melantunkan ayat-ayat suci itu di sampingku, tempat aku merayakan Ultah kak Rehan beberapa bulan lalu. Entahlah aku hanya ingin mengenang masa-masa indah itu. “Kak kalau ada waktu nyusul ya” iseng aja ku layangkan pesan singkat itu “Hari ini kakak sibuk dek, maaf ya…” huft… Seharian ku habiskan waktuku di tempat ini, di tempat duduk yang sama beberapa bulan lalu, kini kenangan manis itu tergambar jelas di benakku, masih sempat-sempatnya aku berharap ia akan datang menyusulku kesini, padahal ku tahu hal itu takkan pernah terjadi. Tak terasa air mata ini mulai membasahi pipiku.

Matahari mulai enggan menampakkan dirinya, langit tiba-tiba berubah menjadi gelap, awan hitam pun bermunculan seakan sudah siap mengguyur bumi, suara petir mulai menderu dari segala penjuru. Aku lelah, aku menyerah, kak Rehan takkan pernah datang menemuiku, semua itu hanya akan menjadi mimpi, aku meninggalkan tempat ini dengan membawa sejuta kenangan indah, juga sejuta kekecewaan, aku berjalan tanpa arah, tubuhku lunglai, pandanganku mulai kabur dan “Bruak…” semuanya gelap.

—

“Aku dimana?” mataku terbuka, ruangan serba putih, ku dengar semua orang mengucap syukur saat ku buka mata ini. “Kamu sudah bangun sayang” Suara lembut Bunda menyapa, matanya tampak sembab, “Aku dimana? Kenapa kalian semua ada disini” tanyaku “Kamu di rumah sakit sayang, tiga hari yang lalu kamu kecelakaan, dan mengalami koma” jawab Bunda sesenggukan.

48 jam lebih aku koma, dan ini pertama kalinya aku membuka mata, keluarga, sahabat, mereka semua ada disini untuk menungguku terbangun. Sungguh terharu, tapi aku tak melihatnya, kak Rehan, ia dimana? kenapa ia tak ada disini? Hati ini terus memanggilnya, walau mulut ini sudah tak sanggup untuk menyuarakan namanya.
“Ayah, Bunda, maafin Putri, selama ini Putri nggak bisa membuat kalian bangga” Ku genggam erat tangan mereka. “Sayang, kamu nggak usah mikir macam-macam dulu, yang terpenting sekarang adalah Putri harus sembuh” tangis Bundaku semakin menjadi. “Putri pengen tidur panjang Bunda”, itulah kata-kata terakhir yang sempat ku ucapkan, sebelum ayah menuntunku untuk melantunkan dua kalimat syahadat. Bahkan di detik-detik terakhir hidupku, kak Rehan tak pernah datang menemuiku.
“Putri, bangun sayang” teriak Bundaku, “Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Roji’un” Banjir air matapun seketika menggenangi ruangan putih itu.

Tak ada do’a yang terindah yang ku lantunkan kecuali kebahagiaan mereka, orang-orang yang ku sayangi. Ku harap tak akan ada lagi perempuan bodoh seperti aku di dunia ini.
The End

Cerpen Karangan: Khoiriyatul Mukarromah
Facebook: Putri Huanzhu
Alumni IAIN SUNAN AMPEL tahun 2012

Cerita Cinta Tembok Cinta Nan Megah

Telingaku menangkap hiruk-pikuk yang kemudian memaksa ku untuk membuka mataku lebih lebar lagi. Jiwaku belum terkumpul sepenuhnya. Ragaku belum juga bertenaga. Namun ku paksakan untuk berdiri. Aku berada di sebuah tempat yang cukup luas. Entah di mana. Aku tak tahu, aku tak ingat. 

Beberapa langkah di depanku, ada sebuah tembok nan megah berdiri dengan gagahnya. Tembok itu begitu besar, tinggi dan panjang. Mungkin lebih besar dari tembok Berlin di Jerman. Mungkin juga lebih tinggi dari tembok Ratapan di Israel. Mungkin juga lebih panjang dari tembok Cina. Uniknya tembok itu hanya dihiasi oleh dua warna saja, biru dan putih. Warna yang begitu ku sukai. Warna yang begitu melambangkan diriku. 

Tembok Cinta Nan Megah

Banyak sekali orang yang berdiri di depan tembok itu. Ada laki-laki, ada perempuan. Ada tua, ada muda. Wajah orang-orang itu belum pernah ku lihat sebelumnya. Sebagian dari mereka tengah asyik menulis sesuatu di tembok itu. Ada pula yang tengah menempel foto-foto mereka di tembok itu. Ada juga yang hanya bersandar di sana. Ada yang tengah menangis, tertawa, murka dan ada pula yang terlihat linglung. 

Di tembok itu orang-orang bebas melakukan apapun yang mereka inginkan. Ada yang mengotorinya dengan tulisan yang tak jelas. Ada yang menuliskan cerita, ada pula yang berdoa di sana. Seolah-olah ia tengah menyembah tembok megah itu. Jika diperhatikan, tembok itu kini tak hanya berwarna biru dan putih. Tapi lebih berwarna akibat bekas yang ditinggalkan orang-orang di tembok itu.

Kelihatannya menyenangkan, pikirku.

Ku langkahkan kakiku mendekat ke tembok nan megah itu. Semoga saja masih ada sisi tembok yang kosong. Aku ingin menuliskan sesuatu di sana. Meskipun belum terpikir dalam benakku aku ingin menulis apa. Sesampainya di depan tembok itu, aku urungkan niatku untuk menulis. Aku masih bingung mau menulis apa. Rasanya begitu takut untuk menulis sesuatu di tembok itu. Namun hati kecilku terus merengek. Akhirnya aku hanya bersandar saja dan mengamati sekeliling.

Cukup lama aku bersandar hingga seseorang menyolek bahuku. Spontan mataku ingin tahu siapakah itu. Ia seorang pria. Rambutnya hitam dengan gaya spike ala anak muda masa kini. Matanya kecil diperindah dengan bulu matanya yang lentik, hidungnya pun sama. Kumis tipisnya menghiasi bibirnya yang kecil. Kulitnya putih bersih, wajahnya manis tanpa jerawat maupun komedo. Ia sedikit lebih tinggi dari ku. Sepertinya ia pun lebih tua dari ku.

Aku tak berkomentar apa-apa. Hanya menatapnya penuh tanya. Lalu ia tersenyum. Senyumnya sungguh manis. Matanya makin mengecil saat ia melebarkan bibirnya. Sepertinya ia berasal dari etnis Tionghoa. Oh Tuhan, aku bisa terserang diabetes karenanya. Sayang sekali jika senyuman semanis itu tak ku balas.

Setelah puas saling membalas senyuman, ia mulai berucap.

“Boleh aku mengenal mu?” tanyanya. Suaranya berat, namun terkesan indah.
“Kenapa tidak? Namaku Langit” sahutku.
“Nama yang bagus.. Aku Bumi.” balasnya. Lagi-lagi ia tersenyum. Bagus! Selepas ini aku harus pergi ke dokter untuk memeriksa gula darahku.

Dimulai dari perkenalan sederhana, percakapan kami terus berlanjut makin jauh. Tak terasa sudah begitu lama aku di sini. Tempat ini begitu menyenangkan. Waktuku terbuang tanpa terasa. Bukan hanya hari itu, tapi esok dan seterusnya pun aku mengunjungi tembok nan megah itu.

Hari-hari semakin banyak pengunjung tembok itu. Dan hubunganku dengan Bumi pun semakin akrab. Hingga akhirnya pertemanan kami berakhir. Bukan berakhir sebenarnya, namun lebih tepat merangkak ke anak tangga yang lebih tinggi. Akan ku kenang terus saat manis bersamanya itu. Saat di mana ia mengucap kata-kata indah itu. Kata-kata yang sungguh jarang aku mendengarnya.

Saat itu, seperti biasa, aku hanya duduk bersandar pada tembok itu. Sementara Bumi di sisiku. Ku sandarkan kepalaku di bahunya yang datar sambil ku genggam tangannya. Tak ku pedulikan hiruk-pikuk orang yang lalu lalang. Di antara mereka, ada mata yang memandang kami dengan tajam. Ada pula gadis-gadis cantik yang menutup kepalanya dengan kain-kain yang anggun. Mereka menatap kami dengan pandangan tak mengenakan sambil sesekali tertawa kecil. Jelas mereka bukan tertawa bersama kami, tapi mereka menertawakan kami. Mungkin terlintas dalam benak mereka, apa yang dilakukan dua orang aneh di sini?

Serupa pula dengan apa yang ada dalam benakku. Apa yang ku lakukan di sini? Mengapa aku merasa begitu nyaman berada di sini? Mengapa aku merasa begitu bahagia duduk bersandar bersama Bumi? Lamunan ku terpecahkan oleh desah suara Bumi.

“Langit… Aku sadari ini salah. Namun, jika mencintai mu adalah hal yang salah, aku enggan menjadi benar” desahnya dengan sangat lembut.
“Begitu juga dengan diriku. Takkan ku pedulikan mana yang salah mana yang benar. Jika bersamamu sudah cukup. Aku tak inginkan apapun lagi.” jawabku.
Ku beranikan menatap matanya dalam-dalam meski sejujurnya aku tak sanggup. Dia pun melakukan hal yang serupa. Mata kami saling memandang. Wajah kami sama-sama memerah. Menahan malu serta bahagia.

Dan…

“Aku mencintai mu, Langit”

Terucap!

Kalimat sederhana bak mutiara itu akhirnya terucap. Setelah cukup lama aku menunggu. Akhirnya terucap jua. Mulai hari itu semuanya terasa berbeda. Tembok itu terlihat lebih indah, lebih megah dari biasanya. Hidupku terasa lebih berwarna. Kegundahan hilang lenyap. Kesedihan pergi menjauh.

Belum terpikirkan olehku kapan ini akan berakhir, kapan tembok nan megah ini akan runtuh, kapan pula aku harus berpisah dengannya. Aku hanya ingin bahagia meski hanya sebentar saja. Jika hanya dengan tembok ini aku mendapat kebahagiaan, maka akan ku kunjungi terus-menerus tembok ini. Bahkan hingga saat ini, hingga detik ini pun aku masih mengunjungi tembok itu. Tembok indah dengan berbagai keajaibannya. Tembok indah dengan miliaran pengunjung setiap harinya. Tembok indah yang mampu membenarkan yang salah. Tembok indah yang mampu mendatangkan cinta.

Tembok indah yang mampu menyatukan Langit dan Bumi.
Tembok indah yang hingga saat ini masih berwarna putih dan biru…
Tembok indah yang bernama…
.
.
.
.
Facebook

Cerpen Karangan: Fajar Rahmad Hidayat
Blog: jarvajar.blogspot.com
Facebook: Fajar Apa Lo